MARI TETAT PELIHARA AKAL SEHAT
Catatan Pilpres 2014.
DI tengah berita media –media partisan yang memihak,
memlintir pernyataan, ditambah saling serang antar pendukung masing-masing
pasangan capres-cawapres di sosmed, bagaimanakah kita, rakyat biasa, mendapat
informasi dan pemahaman yang memadai tentang keadaan politik sekarang?
Khususnya dalam menentukan pilihan politik?
Bagi kita rakyat biasa, masih ada alat
ampuh: Akal sehat.
Ya, akal sehat.
Akal sehat tidak bisa dikelabui rekayasa informasi, sepanjang
akal sehat kita terjaga baik. Karena itu, bersama saya, mari kita jaga dan
gunakan akal sehat masing-masing melaui tulisan ini.
Dengan akal sehat, kita bangun logika sehat – tidak usah yang rumit-rumit seperti pakar politik atau tim sukses. Kita berusaha pintar. Biarlah para politisi dan pengamat yang terpaksa harus bodoh karena tugas – ups, maaf.
Dengan akal sehat, kita bangun logika sehat – tidak usah yang rumit-rumit seperti pakar politik atau tim sukses. Kita berusaha pintar. Biarlah para politisi dan pengamat yang terpaksa harus bodoh karena tugas – ups, maaf.
Pertanyaan adalah alat untuk mengetahui. Nah, kita rakyat
bikin pertanyaan yang dasar-dasar saja, lalu kita bersama-sama berusaha mencari
jawaban. Mari kita coba berpikir dan bertanya polos, seperti anak baru akil
baligh. Singkirkan dulu informasi-informasi negatif, rasa suka-tidak suka.
Pokoknya polos. Bila perlu ambil nafas dulu dan lepaskan pelan-pelan.
Pertanyaan pertama paling dasar adalah: Siapa yang sekarang
bersaing dalam pemilihan presiden? Jawabanya, Tuan Prabowo dan Tuan Jokowi.
Betulkah?
Melihat komitmen masing-masing calon yang pernah dikemukakan sebelum pilpres, dengan asumsi bahwa kedua calon sungguh-sungguh dan jujur dengan pernyataannya masing-masing, sedikit di balik tirai panggung kita akan melihat bahwa yang sedang bersaing sekarang sebenarnya bukan Prabowo dengan Jokowi, tapi Prabowo dengan para mantan atasannya di TNI.
Melihat komitmen masing-masing calon yang pernah dikemukakan sebelum pilpres, dengan asumsi bahwa kedua calon sungguh-sungguh dan jujur dengan pernyataannya masing-masing, sedikit di balik tirai panggung kita akan melihat bahwa yang sedang bersaing sekarang sebenarnya bukan Prabowo dengan Jokowi, tapi Prabowo dengan para mantan atasannya di TNI.
Prabowo sejak lama berminat jadi Presiden. Ini ia tunjukkan
secara jelas dengan membangun partai, memasang iklan, ikut bursa percalonan di
pilpres sebelumnya, dan sekarang.
Jokowi, berdasarkan pernyataan-pernyatannya – tolong jangan
diperumit – tak berminat jadi Presiden. Ia berkali-kali menegaskan akan
menyelesaikan mandatnya sebagai gubernur DKI selama 5 tahun.
Yang mendorongnya jadi adalah PDIP, yang melihat populeritas Jokowi ketika itu sebagai asset partai. Lalu sejumlah purnawirawan berhimpun di belakangnya untuk menghadang Prabowo. Kenapa? Nanti kita coba jari jawabannya bersama-sama.
Yang mendorongnya jadi adalah PDIP, yang melihat populeritas Jokowi ketika itu sebagai asset partai. Lalu sejumlah purnawirawan berhimpun di belakangnya untuk menghadang Prabowo. Kenapa? Nanti kita coba jari jawabannya bersama-sama.
Jadi , yang terlihat di balik tirai panggung adalah
persaingan Prabowo dengan Tuan Wiranto, Hendro Priyono, Luhut Panjaitan. Ada 35
jenderal di perahu Jokowi, tapi kita sebut tiga itu saja.
Kenapa mereka memilih bediri di belakang Jokowi? Karena Mas Joko ini orang baik, tipe pekerja, disenangi rakyat, disayangi media. Masuk akal toh? Wiranto memang sempat maju sendiri, tapi sudah terbukti kurang laku.
Kenapa mereka memilih bediri di belakang Jokowi? Karena Mas Joko ini orang baik, tipe pekerja, disenangi rakyat, disayangi media. Masuk akal toh? Wiranto memang sempat maju sendiri, tapi sudah terbukti kurang laku.
Para pendukung Jokowi, karena itu, sebenarnya sedang
mendukung para purnawirawan ini, kecuali pendukung Jokowi untuk gubernur DKI.
Mereka harus dikecualikan.
Jokowi sudah banyak jadi bahan berita, tak susah mendapatkan
informasi tentang dia. Sangat banyak. Tapi kita pilih yang pokok-pokoknya saja.
Dan yang bersifat langsung pernyataan dan tindakan dia, bukan narasi media.
Klip-klip video tentang pernyataan-pernyatannya bisa jadi bahan, kemudian kita
rangkai untuk mendapat gambaran umum.
Dari rangkaian itu, yang terlihat adalah, Jokowi kerjanya
sungguh-sungguh, hidupnya merakyat, omonganya pun sederhana. Pantaskah ia jadi
presiden? Kenapa tidak? Banyak yang ingin punya presiden merakyat. Tapi apakah
ia benar-benar berminat? Kalau kita menganggap Jokowi jujur, ia tidak berminat.
Ingat lho, ini bukan kata kita, tapi kata dia sendiri.
Menurut logika sedernana, ia adalah ‘perwakilan’ PDIP dan para
mantan purnawirawan itu. Sekali lagi, pilpres ini adalah persaingan antara
Prabowo dengan para jenderal seniornya.
Untuk mengetahui Prabowo pun, kita buat pertanyaan-pertanyaan
mendasar. Layakkah ia jadi Presiden? Bukankah menurut berbagai informasi ia dipecat?
Kita cari jawabannya dengan logika dasar pula, dengan melihat
kenyataan sekarang. Kita ini rakyat, tak usah cari-cari dokumen otentik seperti
pengacara atau detektif, atau tim penyelidik. Pakai akal biasa saja. Maka ini
yang kita lihat:
Pengertian dipecat itu dikeluarkan dari instansi tempat dia
bekerja. Statusnya dicabut. Setelah dipecat, seseorang tidak memiliki lagi
hubungan resmi dengan instansi yang memecatnya.
Prabowo tetap menyandang pangkat letnan jenderal sampai sekarang. Dan pada setiap HUT Kopassus, Prabowo diundang dan hadir dengan pakaian resmi militer. Prabowo pun masih menerima uang pensiun. Jadi kata dipecat tidak cocok di sini, tak peduli satu juta media dan tujuh gerobak pengamat berulang-ulang menyebutnya demikian.
Prabowo tetap menyandang pangkat letnan jenderal sampai sekarang. Dan pada setiap HUT Kopassus, Prabowo diundang dan hadir dengan pakaian resmi militer. Prabowo pun masih menerima uang pensiun. Jadi kata dipecat tidak cocok di sini, tak peduli satu juta media dan tujuh gerobak pengamat berulang-ulang menyebutnya demikian.
Pun, menurut informasi yang tersebar luas, Prabowo melanggar
HAM, penanggung jawab tragedi Semanggi. Lagi-lagi kita, rakyat biasa, memeriksa
ini dengan logika sederhana saja. Tak usah cari-cari dokumen dan alat-alat
bukti. Dokumen dan alat bukti bisa dibuat dan dipalsukan, akal sehat tak bisa
dikelabui.
Prabowo tidak diadili untuk kasus itu. Ada dalih: karena para penyeretnya takut Soeharto. Tapi bukankan waktu itu justru sedang berlangsung gerakan reformasi menggulingkan Soeharto? Dan berhasil? Kok takut? Soeharto saja beberapa kali dipanggil Kejaksaan dan datang. Kenapa Prabowo, yang ‘hanya’ mantan menentu, tidak dipanggil dan dituntut?
Prabowo tidak diadili untuk kasus itu. Ada dalih: karena para penyeretnya takut Soeharto. Tapi bukankan waktu itu justru sedang berlangsung gerakan reformasi menggulingkan Soeharto? Dan berhasil? Kok takut? Soeharto saja beberapa kali dipanggil Kejaksaan dan datang. Kenapa Prabowo, yang ‘hanya’ mantan menentu, tidak dipanggil dan dituntut?
Zaman Gus Dur, Wiranto Pangab. Kenapa masih tak berani
menyeret Prabowo ke pengadilan? Sipil atau militer? Masih takut karena mantan
menantu Soeharto? Anaknya saja, Tommy Soeharto, ditangkap, diadili dan
dipenjara, kenapa tak mau menangkap dan mengadili Prabowo? Karena ‘lari ke
Jordania’. Ah, apa susahnya menangkap Prabowo di luar negeri, apalagi ia
dimusuhi polisi dunia, Amrik.
Jadi, menurut logika sederhana, Prabowo pelanggar HAM dan penanggung jawab tragedi Semanggi itu tidak bisa dimengerti. Silahkan bantah pakai logika dan bukti.
Jadi, menurut logika sederhana, Prabowo pelanggar HAM dan penanggung jawab tragedi Semanggi itu tidak bisa dimengerti. Silahkan bantah pakai logika dan bukti.
Malah, ia sempat jadi cawapres Megawati. Sampailah kita di pertanyaan
paling utama: Kalau begitu, kenapa dulu Prabowo diberhentikan dari tugasnya
sebagai Pangkostrad? Dan kenapa sekarang para purnawirawan itu merasa perlu
menghambat Mas Bowo jadi Presiden?
Untuk menjawab ini, kita perlu jelas dulu bahwa pemberhentian Prabowo dari jabatan Pangkostrad terkait dengan kerusuhan Mei 1998. Prabowo adalah salah seorang yang bertanggungjawab mengamankan keadaan dari para perusuh.
Untuk menjawab ini, kita perlu jelas dulu bahwa pemberhentian Prabowo dari jabatan Pangkostrad terkait dengan kerusuhan Mei 1998. Prabowo adalah salah seorang yang bertanggungjawab mengamankan keadaan dari para perusuh.
Siapakah para perusuh itu? Mahasiswa demonstran? Warga
Jakarta? Anggaplah ini benar. Tindakan anarkis paling keras yang bisa mereka lakukan
paling membakar ban, memblokir jalan, seperti yang biasa kita lihat. Kita perlu
berpikir keras untuk memahami bagaiamana mereka bisa membakar mall, sejumlah
bangunan, menghancurkan puluhan kendaraan. Sejak tahun 66, gerakan mahasiswa
tak menghasilkan capaian besar tanpa didukung militer.
Kebetulan sebagai warga masyarakat biasa ketika itu saya kos
di sebuah rumah milik warga keturunan di daerah Salemba. Kebanyakan warga di
sana adalah orang keturunan. Menjelang siang, huru-hara meletus di sana. Sejumlah
orang berkepala cepak, bertubuh kekar, menggedor-gedor kaca ruang pamer
[showroom] kendaraan, kantor-kantor. “Keluar kalian, Cina! Keluar!” teriak para
penyerang berkepala cepak itu. Warga keturunan berlarian. Kaca-kaca pecah.
Sejumlah kendaraan dibakar.
Tampilan orang-orang seperti itu ada di berbagai tempat kerusuhan di Jakarta. Itu tampilan orang-orang militer. Beberapa di antaranya tampilan preman. Mereka seperti satu kesatuan, dengan gerak yang terorganisir. Mereka trampil membakar gedung, menghancurkan bangunan, membakar kendaraan.
Nah, kesatuan yang dipimpin Prabowo menghadapi orang-orang seperti ini, yang dikirim entah dari mana dan oleh siapa.
Tampilan orang-orang seperti itu ada di berbagai tempat kerusuhan di Jakarta. Itu tampilan orang-orang militer. Beberapa di antaranya tampilan preman. Mereka seperti satu kesatuan, dengan gerak yang terorganisir. Mereka trampil membakar gedung, menghancurkan bangunan, membakar kendaraan.
Nah, kesatuan yang dipimpin Prabowo menghadapi orang-orang seperti ini, yang dikirim entah dari mana dan oleh siapa.
Tak terhindarkan korban berjatuhan. Tapi Jakarta selamat dari
bumi hangus total. Dan proses transisi kekuasaan berjalan sesuai konsitusi –
tidak melalui pengambilalihan secara paksa oleh militer.
Tapi lagi: Prabowo tahu siapa di belakang para perusuh itu. Karena beberapa di antara mereka berhasil di tangkap oleh anak buah Prabowo. Dan karena Prabowo tahu, dia harus dipecat. Disingkirkan.
Tapi lagi: Prabowo tahu siapa di belakang para perusuh itu. Karena beberapa di antara mereka berhasil di tangkap oleh anak buah Prabowo. Dan karena Prabowo tahu, dia harus dipecat. Disingkirkan.
Mari tetap pelihara akal sehat .
.#PrabowoHatta #SelamatkanIndonesia #IndonesiaSatu
x




