Jumat, 27 Juni 2014

Mari tetap pelihara akal sehat; Aspirasi untuk Prabowo-Hatta






MARI TETAT PELIHARA AKAL SEHAT

Catatan Pilpres 2014.
DI tengah berita media –media partisan yang memihak, memlintir pernyataan, ditambah saling serang antar pendukung masing-masing pasangan capres-cawapres di sosmed, bagaimanakah kita, rakyat biasa, mendapat informasi dan pemahaman yang memadai tentang keadaan politik sekarang? Khususnya dalam menentukan pilihan politik?
Bagi kita rakyat biasa, masih ada alat ampuh: Akal sehat.
Ya, akal sehat.
Akal sehat tidak bisa dikelabui rekayasa informasi, sepanjang akal sehat kita terjaga baik. Karena itu, bersama saya, mari kita jaga dan gunakan akal sehat masing-masing melaui tulisan ini.

Dengan akal sehat, kita bangun logika sehat – tidak usah yang rumit-rumit seperti pakar politik atau tim sukses. Kita berusaha pintar. Biarlah para politisi dan pengamat yang terpaksa harus bodoh karena tugas – ups, maaf.
Pertanyaan adalah alat untuk mengetahui. Nah, kita rakyat bikin pertanyaan yang dasar-dasar saja, lalu kita bersama-sama berusaha mencari jawaban. Mari kita coba berpikir dan bertanya polos, seperti anak baru akil baligh. Singkirkan dulu informasi-informasi negatif, rasa suka-tidak suka. Pokoknya polos. Bila perlu ambil nafas dulu dan lepaskan pelan-pelan.
Pertanyaan pertama paling dasar adalah: Siapa yang sekarang bersaing dalam pemilihan presiden? Jawabanya, Tuan Prabowo dan Tuan Jokowi.
Betulkah?

Melihat komitmen masing-masing calon yang pernah dikemukakan sebelum pilpres, dengan asumsi bahwa kedua calon sungguh-sungguh dan jujur dengan pernyataannya masing-masing, sedikit di balik tirai panggung kita akan melihat bahwa yang sedang bersaing sekarang sebenarnya bukan Prabowo dengan Jokowi, tapi Prabowo dengan para mantan atasannya di TNI.
Prabowo sejak lama berminat jadi Presiden. Ini ia tunjukkan secara jelas dengan membangun partai, memasang iklan, ikut bursa percalonan di pilpres sebelumnya, dan sekarang.
Jokowi, berdasarkan pernyataan-pernyatannya – tolong jangan diperumit – tak berminat jadi Presiden. Ia berkali-kali menegaskan akan menyelesaikan mandatnya sebagai gubernur DKI selama 5 tahun.

Yang mendorongnya jadi adalah PDIP, yang melihat populeritas Jokowi ketika itu sebagai asset partai. Lalu sejumlah purnawirawan berhimpun di belakangnya untuk menghadang Prabowo. Kenapa? Nanti kita coba jari jawabannya bersama-sama.
Jadi , yang terlihat di balik tirai panggung adalah persaingan Prabowo dengan Tuan Wiranto, Hendro Priyono, Luhut Panjaitan. Ada 35 jenderal di perahu Jokowi, tapi kita sebut tiga itu saja.
Kenapa mereka memilih bediri di belakang Jokowi? Karena Mas Joko ini orang baik, tipe pekerja, disenangi rakyat, disayangi media. Masuk akal toh? Wiranto memang sempat maju sendiri, tapi sudah terbukti kurang laku.
Para pendukung Jokowi, karena itu, sebenarnya sedang mendukung para purnawirawan ini, kecuali pendukung Jokowi untuk gubernur DKI. Mereka harus dikecualikan.
Jokowi sudah banyak jadi bahan berita, tak susah mendapatkan informasi tentang dia. Sangat banyak. Tapi kita pilih yang pokok-pokoknya saja. Dan yang bersifat langsung pernyataan dan tindakan dia, bukan narasi media. Klip-klip video tentang pernyataan-pernyatannya bisa jadi bahan, kemudian kita rangkai untuk mendapat gambaran umum.
Dari rangkaian itu, yang terlihat adalah, Jokowi kerjanya sungguh-sungguh, hidupnya merakyat, omonganya pun sederhana. Pantaskah ia jadi presiden? Kenapa tidak? Banyak yang ingin punya presiden merakyat. Tapi apakah ia benar-benar berminat? Kalau kita menganggap Jokowi jujur, ia tidak berminat. Ingat lho, ini bukan kata kita, tapi kata dia sendiri.
Menurut logika sedernana, ia adalah ‘perwakilan’ PDIP dan para mantan purnawirawan itu. Sekali lagi, pilpres ini adalah persaingan antara Prabowo dengan para jenderal seniornya.
Untuk mengetahui Prabowo pun, kita buat pertanyaan-pertanyaan mendasar. Layakkah ia jadi Presiden? Bukankah menurut berbagai informasi ia dipecat?
Kita cari jawabannya dengan logika dasar pula, dengan melihat kenyataan sekarang. Kita ini rakyat, tak usah cari-cari dokumen otentik seperti pengacara atau detektif, atau tim penyelidik. Pakai akal biasa saja. Maka ini yang kita lihat:
Pengertian dipecat itu dikeluarkan dari instansi tempat dia bekerja. Statusnya dicabut. Setelah dipecat, seseorang tidak memiliki lagi hubungan resmi dengan instansi yang memecatnya.
Prabowo tetap menyandang pangkat letnan jenderal sampai sekarang. Dan pada setiap HUT Kopassus, Prabowo diundang dan hadir dengan pakaian resmi militer. Prabowo pun masih menerima uang pensiun. Jadi kata dipecat tidak cocok di sini, tak peduli satu juta media dan tujuh gerobak pengamat berulang-ulang menyebutnya demikian.
Pun, menurut informasi yang tersebar luas, Prabowo melanggar HAM, penanggung jawab tragedi Semanggi. Lagi-lagi kita, rakyat biasa, memeriksa ini dengan logika sederhana saja. Tak usah cari-cari dokumen dan alat-alat bukti. Dokumen dan alat bukti bisa dibuat dan dipalsukan, akal sehat tak bisa dikelabui.

Prabowo tidak diadili untuk kasus itu. Ada dalih: karena para penyeretnya takut Soeharto. Tapi bukankan waktu itu justru sedang berlangsung gerakan reformasi menggulingkan Soeharto? Dan berhasil? Kok takut? Soeharto saja beberapa kali dipanggil Kejaksaan dan datang. Kenapa Prabowo, yang ‘hanya’ mantan menentu, tidak dipanggil dan dituntut?
Zaman Gus Dur, Wiranto Pangab. Kenapa masih tak berani menyeret Prabowo ke pengadilan? Sipil atau militer? Masih takut karena mantan menantu Soeharto? Anaknya saja, Tommy Soeharto, ditangkap, diadili dan dipenjara, kenapa tak mau menangkap dan mengadili Prabowo? Karena ‘lari ke Jordania’. Ah, apa susahnya menangkap Prabowo di luar negeri, apalagi ia dimusuhi polisi dunia, Amrik.

Jadi, menurut logika sederhana, Prabowo pelanggar HAM dan penanggung jawab tragedi Semanggi itu tidak bisa dimengerti. Silahkan bantah pakai logika dan bukti.
Malah, ia sempat jadi cawapres Megawati. Sampailah kita di pertanyaan paling utama: Kalau begitu, kenapa dulu Prabowo diberhentikan dari tugasnya sebagai Pangkostrad? Dan kenapa sekarang para purnawirawan itu merasa perlu menghambat Mas Bowo jadi Presiden?
Untuk menjawab ini, kita perlu jelas dulu bahwa pemberhentian Prabowo dari jabatan Pangkostrad terkait dengan kerusuhan Mei 1998. Prabowo adalah salah seorang yang bertanggungjawab mengamankan keadaan dari para perusuh.
Siapakah para perusuh itu? Mahasiswa demonstran? Warga Jakarta? Anggaplah ini benar. Tindakan anarkis paling keras yang bisa mereka lakukan paling membakar ban, memblokir jalan, seperti yang biasa kita lihat. Kita perlu berpikir keras untuk memahami bagaiamana mereka bisa membakar mall, sejumlah bangunan, menghancurkan puluhan kendaraan. Sejak tahun 66, gerakan mahasiswa tak menghasilkan capaian besar tanpa didukung militer.
Kebetulan sebagai warga masyarakat biasa ketika itu saya kos di sebuah rumah milik warga keturunan di daerah Salemba. Kebanyakan warga di sana adalah orang keturunan. Menjelang siang, huru-hara meletus di sana. Sejumlah orang berkepala cepak, bertubuh kekar, menggedor-gedor kaca ruang pamer [showroom] kendaraan, kantor-kantor. “Keluar kalian, Cina! Keluar!” teriak para penyerang berkepala cepak itu. Warga keturunan berlarian. Kaca-kaca pecah. Sejumlah kendaraan dibakar.

Tampilan orang-orang seperti itu ada di berbagai tempat kerusuhan di Jakarta. Itu tampilan orang-orang militer. Beberapa di antaranya tampilan preman. Mereka seperti satu kesatuan, dengan gerak yang terorganisir. Mereka trampil membakar gedung, menghancurkan bangunan, membakar kendaraan.
Nah, kesatuan yang dipimpin Prabowo menghadapi orang-orang seperti ini, yang dikirim entah dari mana dan oleh siapa.
Tak terhindarkan korban berjatuhan. Tapi Jakarta selamat dari bumi hangus total. Dan proses transisi kekuasaan berjalan sesuai konsitusi – tidak melalui pengambilalihan secara paksa oleh militer.

Tapi lagi: Prabowo tahu siapa di belakang para perusuh itu. Karena beberapa di antara mereka berhasil di tangkap oleh anak buah Prabowo. Dan karena Prabowo tahu, dia harus dipecat. Disingkirkan.
Mari tetap pelihara akal sehat .
.#PrabowoHatta #SelamatkanIndonesia #IndonesiaSatu

x


Maurice bertambah terkejut dan terus bertanya-tanya, dari mana Alquran mendapatkan data, sementara mumi tidak ditemukan sampai 1898.


Dream - Maurice Bucaille lahir di Perancis. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, ia belajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Prancis. Kemudian menjadi dokter bedah terkenal dan terpintar yang pernah dimiliki Perancis modern. Namun, cerita keislamannya mampu mengubah hidup dia.
Perancis terkenal sebagai negara yang tertarik dengan arkeologi dan budaya. Di akhir 80an, Perancis meminta Mesir untuk mengirimkan mumi Firaun untuk dilakukan serangkaian eksperimen dan penelitian.
Akhirnya mumi penguasa Mesir terkenal tersebut akhirnya tiba di Perancis. Mumi itu kemudian dipindahkan ke ruangan khusus di Monument Center. Para arkeolog, ahli bedah dan ahli anatomi mulai melakukan studi tentang mumi ini dalam upaya untuk menyelidiki misteri Firaun.
Dokter bedah senior dan ilmuwan yang bertanggung jawab atas studi tentang mumi Firaun adalah Profesor Maurice Bucaille. Sementara proses restorasi mumi berjalan, Maurice Bucaille sibuk dengan pikirannya. Dia mencoba untuk menemukan bagaimana Firaun ini meninggal.
Saat larut malam, ia menemukan penyebabnya. Sisa-sisa garam yang terjebak dalam tubuh mumi itu adalah bukti bahwa ia meninggal karena tenggelam dan mayatnya segera diangkat dari laut.
Terlihat jelas juga bahwa para pendeta Mesir kuno buru-buru mengawetkan tubuh Firaun tersebut. Tapi Maurice bingung dengan sebuah pertanyaan, bagaimana tubuh ini--dengan mengesampingkan tubuh mumi lainnya dari Mesir kuno-- tetap utuh hingga sekarang meskipun tubuhnya pernah tenggelam di laut.
Maurice sibuk memikirkan hal tersebut ketika seorang koleganya mengatakan tidak usah terlalu dipikirkan karena dalam Islam disebutkan bahwa Firaun ini memang tenggelam.
Pada awalnya, dia sangat tidak yakin dan menolak pernyataan tersebut. Dia mengatakan penemuan seperti itu hanya bisa diketahui melalui peralatan komputer canggih dan modern.
Maurice bertambah tercengang setelah koleganya yang lain mengatakan bahwa Alquran, kitab suci yang dipercaya muslim, menceritakan kisah tenggelamnya Firaun dan mengatakan tubuh tersebut akan tetap utuh meskipun ia telah tenggelam.
Maurice bertambah terkejut dan terus bertanya-tanya, dari mana kitab suci umat Islam ini mendapatkan data, sementara mumi tidak ditemukan sampai 1898. Selain itu Alquran juga baru diturunkan kepada umat Islam selama lebih dari 1400 tahun setelah peristiwa tenggelamnya Firaun. Mengingat juga sampai beberapa dekade lalu seluruh umat manusia termasuk muslim tidak tahu bahwa orang Mesir kuno mengawetkan firaun mereka?
Maurice Bucaille terjaga sepanjang malam menatap tubuh Firaun, berpikir mendalam soal kitab Alquran yang secara eksplisit mengatakan bahwa tubuh ini akan utuh setelah tenggelam.
"Bisakah dipercaya nabi Muhammad SAW tahu tentang ini lebih dari 1.000 tahun yang lalu ketika saya baru saja mengetahu hal itu?" pikir Maurice.
Pikiran Maurice malam itu dipenuhi berbagai pertanyaan dan keheranan tentang kitab suci umat Islam. Mumi tersebut akhirnya dikembalikan ke Mesir.
Jatuh Cinta dengan Alquran
Tapi, karena ia sudah tahu tentang kisah Firaun versi muslim, ia segera berkemas dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi. Kebetulan saat itu di Arab Saudi diadakan konferensi medis yang dihadiri banyak ahli anatomi muslim.
Di sana, Maurice memberitahu mereka tentang penemuannya, yaitu bahwa tubuh Firaun itu tetap utuh bahkan setelah ia tenggelam. Salah satu peserta konferensi membuka Alquran dan membacakan surat Yunus ayat 92 yang menceritakan kisah bagaimana tubuh Firaun diangkat dari dasar laut dan atas izin Allah, tubuh itu akan utuh agar menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang berpikir sesudahnya.
Dalam kegembiraannya setelah dibacakan ayat tersebut, Maurice berdiri di hadapan para peserta konferensi berkata, 'Aku telah masuk Islam dan percaya pada Alquran ini'.
Saat kembali ke Perancis, Maurice Bucaille menghabiskan 10 tahun melakukan studi tentang kesesuaian fakta-fakta ilmiah saat ini dengan yang disebutkan dalam Alquran. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Alquran tidak pernah bertentangan dengan satupun fakta ilmiah.
Dia kemudian menulis buku tentang Alquran yang menghebohkan seluruh negara-negara Barat, dengan judul, "The Bible, The Qur’an and Science, The Holy Scriptures Examined In The Light Of Modern Knowledge."
Buku tersebut sangat laris dan bahkan ratusan ribu eksemplar telah diterjemahkan dari bahasa Perancis ke bahasa Arab, Inggris, Indonesia, Persia, Turki dan Jerman. Bahkan tersebar ke hampir semua toko buku di seluruh dunia.
"Sisi ilmiah dari Alquran telah mengejutkan saya sejak awal, karena pikiran saya belum pernah melihat begitu banyak kajian ilmu pengetahuan yang disuguhkan secara akurat. Itu semacam cermin bagi ilmu pengetahuan yang sudah ditulis dalam buku-buku ilmiah selama ini padahal ilmu tersebut sudah ada lebih dari 13 abad yang lalu," sepenggal catatan kata pengantar Maurice dalam bukunya.
(Sumber: Onislam.net)